Sabtu, 23 April 2011

          Luciano Pavarotti (Modena, 12 Oktober 19356 September 2007) adalah seorang tenor berkebangsaan Italia. Dia memulai kariernya di musik pada tahun 1961 di Reggio Emilia. Pada tahun 2006 Pavarotti menyanyikan lagu Nessun Dorma di Olimpiade Musim Dingin 2006.


 MODENE, sebuah kota kecil di Itanlia utara, tercengkam suasana berkabung, di seputar seorang perempuan bernama Nicolletta Mantovani. Kabung yang merupakan pertanda sekaligus menggemakan ke seantero pelosok dunia, berita : « Le plus grand tenor au monde, Luciano Pavarotti, est mort » -- seperti yang dilansir KB AFP, Kemis 6 September 2007 lalu. « Tenor terbesar dunia, Luciano Pavarotti, meniggal dunia. »
Tak seorangpun yang paling berduka cita kecuali Nicoletta Mantrovani, perempuan yang 30-an tahun lebih muda dari Sang Maestro yang meninggal dalam usia 71 tahun terhujam penyakit kangker pankreas
. Pasalnya, dialah perempuan yang paling pehatian baik dalam aktivitas-kreativitas maupun sampai pada soal kesehatan sang suami. Dari siapa dia dianugerahi buah hati : seorang puteri.
Belum lama berselang, dalam bulan Juli, Nicoletta masih menampakkan optimismenya. Dengan mengumumkan, bahwa kesehatan sang suami akan pulih. Sementara itu keduanya sedang menyiapkan piringan-hitam karya musik terbarunya berjudul „Pavarotti & His Friends“. Malah, sehari sebelum tarikan nafas akhirnya, pada hari Rabu, Sang tenor kaliber dunia yang terbesar itu masih sempat menyatakan perhatiannya kepada kantor berita Ansas, berkenaan dengan pembentukan lembaga anugerah tinggi bidang kebudayaan : „excellence culturelle“. Dalam mana penganugerahan pertamanya adalah tertuju pada karirnya sendiri yang luarbiasa itu.
„Saya merunduk dengan penuh rasa hormat dan terima kasih tak berhingga atas anugerah yang tertuju pada saya itu,“ jelas Luciano Pavarotti. „Karena, dengan itu merupakan pemberian kesempatan bagiku untuk terus merayakan pengalaman pengabdian pada kesenian.“
Tidak hanya orang orang biasa kota Modene yang merasa bangga sekaligus terharu serta berduka cita atas wafatnya Luciano Pavarotti, yang mereka kenal sebagai putera dari keluarga sederhana, mantan guru yang beralih menjadi bintang cemerlang seni musik. Melainkan juga para pencinta seni dan budaya seluruh dunia, pun para sosok tokoh perpolitikan – termasuk Presiden Italia, AS sampai pada Sekjen PBB.
Pers internasional dengan luas leluasa menyiar kabar akan kematiannya, dengan headline atau esai-esai istimewa. Surat-kabar prestisius Ibukota Uni Eropa, Le Soir,  terbitan Brussel, selain memuat judul besar pada halaman satu juga menuliskan esai untuk lampiran kebudayaannya. Dengan menjulukinya sebagai: Tenorissimo! Tenor dari para Tenor.
Ke-tenor-an Pavarotti dimulai dalam tahun 1960-an, dengan „La Boheme“. seterusnya laju menanjak dengan „Rigoletto“, „L’Elisir d’amore“. Ketiganya dianggap sebagai tiang-penyangga utama karir sang seniman besar masyhur sepanjang zaman itu.
Namun demikian, sepanjang perjalanan karir kesenimanannya, Luciano Pavarotti tidak membatasi diri pada musik klasik semacam Opera itu saja. Dia pun, bersama para pekerja seni dan budaya lainnya, berhasil memadukan bentuk dan gaya seni klasik Opera dengan bentuk dan gaya modern seperti musik Pop. Dengan ruang pementasan yang luarbiasa – seperti di stadium atau lapangan sepak bola! Seperti yang dilakukannya dengan konser raksasa di Sport-paleis Antwerpen bersama: Spice Girls, Celine Dion, Bono dan Florian Pagny. Sedangkan pementasannya yang paling dahsyat adalah ketika Italia menjadi tuanrumah „Mondial Cup“ (1990), dengan „Nessun dorma“ dan „Turandot“nya Puccini. Maka, gema suara Sang Maestro serentak membuana.
Kini, pada hari Sabtu 8 September, ribuan orang berkabung di kota Modene, melepas Sang Tenorissimo ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Kendati pun begitu gema karya keseniannya takkan mudah sirna begitu saja. Sebaliknyalah, ia telah memperkaya warisan seni-budaya dunia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar